Sundar Pichai Tokoh Dibalik Kesuksesan Google

On Friday, May 03, 2019
Sundar Pichai

Sundar Pichai

Kamu pasti sudah tahu apa itu Google. Biasanya, warga negara Indonesia sering menjulukinya dengan sebutan “Mbah Google” sebagai mesin pencarian yang bisa memberikan informasi apa pun yang orang-orang butuhkan.

Google adalah sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di California. Hingga kini, Google masih menjadi salah satu perusahaan software terbesar di dunia.

Namun, tahukah kamu siapa orang di balik besarnya nama Google?

Ya, mereka adalah Sergey Brin, Larry Page, dan juga Sundar Pichai, seorang pria asal India yang kini telah sukses bersama Google sebagai CEO perusahaan.

Kesuksesan yang diraih Pichai tak datang begitu saja. Diketahui, ia berasal dari keluarga tak mampu di negara asalnya. Pria kelahiran 12 Juli 1972 ini awalnya merupakan seorang teknisi listrik dan ibunya, Lakshmi Pichai, seorang stenografer.

Berdasarkan catatan Bloomberg, mereka tinggal di sebuah apartemen yang hanya berisikan dua kamar saja. Karena kondisi tersebut, Pichai dan saudaranya harus tidur di ruang tamu.

Sudah sejak awal, Pichai menyadari bahwa dirinya memiliki bakat yang terpendam.

Ingatan Pichai tergolong luar biasa. Ia mampu mengingat setiap nomor telepon yang pernah diputarnya di pesawat telepon bertombol putar, keren bukan? Malahan, dengan bakat uniknya itu Pichai kadang membuat kaget rekan kerjanya karena mampu menghafal semua nomor telepon.

Pichai berhasil lulus dengan gelar sarjana pada 1993 dari Indian Institute of Technology dan mendapatkan penghargaan Institute Silver Medal.

Ketertarikan Pichai pada teknologi mendorongnya untuk membuat sebuah permainan digital. Ia mengembangkan permainan catur. Permainan tersebut bisa dibilang sukses dan banyak disukai masyarakat India. Karena kesuksesan di bidang tersebut, ia akhirnya bisa mendapatkan beasiswa di Stanford University.

Saat itu, ia bermimpi bahwa suatu saat dapat mengunjungi Silicon Valley yang diceritakan oleh sang paman, sehingga bisa kuliah di kawasan San Francisco merupakan sebuah pencapaian besar bagi Pichai. Dalam sebuah sesi wawancara yang dikutip dari Business Insider, Pichai mengatakan:
“Saya selalu menyukai teknologi dan saat tumbuh dewasa, saya bermimpi tentang Silicon Valley. Dulu saya membacanya, dengar dari paman saya.”
Namun nyatanya, tiba di Negeri Paman Sam justru membuat Pichai merasa waswas. Pasalnya, biaya hidup di Amerika lebih mahal dibanding di negara asalnya. Selain itu, ia juga terpaksa harus meninggalkan kekasihnya.

Syukurnya, Pichai tidak merasa kesulitan saat menempuh pendidikan di Stanford. Ia berhasil mendapatkan gelar masternya, kemudian kembali kuliah di University of Pennsylvania Wharton School untuk mendapatkan gelar MBA.

Karir Cemerlang

CEO Google LLC
Sebelum bertemu dengan Google, Sundar Pichai terlebih dahulu bekerja di sebuah perusahaan semikonduktor, Applied Materials. Selain itu ia juga sempat bekerja di perusahaan konsultan McKinsey & Co.

Barulah pada tahun 2004, bertepatan dengan perayaan April Mop, ia mendapatkan wawancara kerja di Googleplex atau di hari yang sama Google merilis Gmail.

Awalnya semua orang, termasuk Pichai, layanan e-mail gratis tersebut merupakan ‘prank’ atau tipuan untuk merayakan April Mop.

Akhirnya ia pun diterima bekerja di Google sebagai pimpinan manajemen produk dan inovasi perangkat lunak Google yang kini meliputi Google Chrome, Chrome OS, dan Google Drive.

Selain itu, ia juga bertanggung jawab atas pengembangan aplikasi seperti Gmail dan Google Maps.

Inovasi awal yang ia dibawa ke Google saat itu ialah menambahkan fitur toolbar pada halaman pencarian.

Fitur itu pun sukses mencuri perhatian di tahun keduanya bekerja, tahun 2006. Microsoft bahkan mengikutinya dan menjadikan Bing sebagai mesin telusur default di Internet Explorer.

Pichai kemudian berhasil meyakinkan para Founder Google, Sergey Brin dan Larry Page, bahwa Google harus membuat peramban (browser) sendiri.

Hasilnya, perusahaan itu pun kini memiliki Google Chrome yang telah banyak digunakan di seluruh dunia.

Pada 2013, Pichai kemudian mengambil alih divisi sistem operasi Android.

Salah satu usaha terbesar yang pernah dijalani olehnya ialah dengan menghadirkan smartphone Android One, yakni ponsel pintar yang ditujukan di kawasan negara berkembang karena harganya yang murah.

Pencapaian lainnya yakni akuisisi perusahaan Nest pada 2014 dan mengembangkan sistem operasi Chrome OS.

Hingga akhirnya pada 2015, Sundar Pichai dipilih sebagai Chief Executive Officer (CEO) Google untuk menggantikan Larry Page.

Saat itu Google memang akan merestrukturisasi kembali perusahaannya dengan membuat perusahaan induk bernama Alphabet.

Gaji CEO Google (Sundar Pichai)

Pichai sendiri adalah salah satu pimpinan perusahaan teknologi dengan citra prestisius di kalangannya.

Bahkan, pendapatannya disebut-sebut lebih tinggi dari gaji Sergey Brin dan Larry Page.

Menurut laporan CNBC, Pichai mendapatkan gaji US$650.000 atau setara dengan Rp8,6 miliar pada 2016. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan gajinya pada 2015 yang mencapai US$652.500 atau setara dengan Rp8,7 miliar.

Tak hanya gaji, pria yang sudah lama bekerja di Google dan menjabat jadi CEO sejak Agustus 2015 ini mendapatkan penghasilan dari saham Google yang jika diuangkan mencapai US$198,7 juta pada 2016. Angka itu setara dengan Rp 2,64 triliun.

Penghasilan Pichai dari saham Google dilaporkan meningkat dua kali lipat dibandingkan penghasilan sahamnya pada 2015 dengan nilai US$99,8 juta atau setara dengan Rp1,32 triliun.

Jika diakumulasi, keseluruhan penghasilan Pichai, baik dari gaji maupun saham senilai US$199,7 juta atau setara dengan Rp2,66 triliun, naik dua kali lipat dari sebelumnya US$100,6 juta atau setara dengan Rp1,34 triliun.

Menjadi sukses seperti Pichai bukanlah satu hal yang instan, banyak proses yang dilewati. Disiplin dan konsisten menjadi salah satu kunci kesuksesan seseorang.