KISAH NABI ILYAS AS

On Friday, May 10, 2019
KISAH NABI ILYAS AS
Nabi Ilyas as bin Yasin bin Fanhas bin Alizar bin Harun bin Imran adalah keturunan Nabi Harun yang keempat. Ia diutus Allah kepada kaumnya Bani Israil yang suka menyembah berhala yang dinamakan Ba'al. Ia hidup di zaman raja Hazqiel. Nabi Ilyas as menyeru kepada mereka agar meninggalkan Ba'al dan menyembah Allah.
"Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang Rasul Allah, Ingatlah ketika ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada Allah? Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan Pencipta yang sebaik-baiknya? Allah itulah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu". (QS. as-Shaffaat 37: 123:126)
Kaum Nabi Ilyas as selalu mendustakan nabinya, sehingga beliau selalu mengingatkan mereka agar berhati-hati dari siksa Tuhan yang amat pedih. Hanya sedikit dari kaumnya yang percaya kepadanya.

Karena mereka tetap durhaka kepada Allah, maka datanglah siksa Allah dengan hujan tidak turun-turun, sehingga mereka kehausan dan ternak mereka habis mati dan tanam-tanaman musnah semuanya.

Sedangkang Nabi Ilyas selalu bersembunyi karena ia takut dibunuh oleh kaumnya yang jahat dan makanannya sedapat-dapatnya. Kalau kaumnya mendapat makanan di dalam sebuah rumah, mereka berkata: "Wah rumah ini sudah dimasuki Ilyas". Kemudian keluarga itu mendapat malapetaka.

Silsilah Nabi Ilyas

Ayah Nabi Ilyas As adalah Yasin bin Fanhash bin Aizar, cucu dari Nabi Harun Alaihissalam, sehingga Ia merupakan keturunan keempat dari Nabi Harun Alaihissalam. Nabi Ilyas tinggal di tepi sebelah timur Sungai Jordan.

Nabi Ilyas diangkat menjadi nabi sekitar tahun 870 sebelum masehi dan diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada Bani Israil, di negeri ba’labak bagian dari Syam.

Sebuah daerah di Libanon, menurut keterangan kotanya bernama Venesia yang awalnya dihuni oleh para pelaut terkenal, mereka menyembah berhala yang berbentuk seorang wanita yang bernama bala.

Itulah biografi nabi ilyas singkat, semoga bermanfaat.

Kisah Nabi Ilyas dan Mukjizatnya

Dakwah Nabi Ilyas agar Bani Israil banyak bersyukur dan beriman kepada Allah, mendapatkan perlawanan dari masyarakat dan raja penguasa pada saat itu. Terdapat kisah ketika akan diangkat oleh sekelompok Bani Israil, Allah subhanahuwata’ala membimbing Nabi Ilyas Alaihissalam menuju ke sebuah rumah, yang ternyata dihuni oleh seorang ibu dan seorang anak yang sedang sakit.

Nabi Ilyas mengobatinya menggunakan mukjizat dari Allah subhanahu wa ta’ala, setelah sang anak sembuh dari sakitnya mereka saling mengucapkan terima kasih. Nabi Ilyas juga senang karena telah diperkenankan bersembunyi dari kejaran Bani Israil.

Kisah Nabi Ilyas dan Ilyasa

Mereka kemudian berkenalan dan akhirnya baru diketahui bahwa nama sang anak tersebut adalah Ilyasa. Anak inilah yang kelak menjadi penerus dakwah Nabi Ilyas Alaihissalam.

Pada suatu hari Nabi Ilyas Alaihissalam, dikejar oleh sekelompok Bani Israil yang tidak senang dengan seruannya. Nabi Ilyas pada saat itu terpaksa harus bersembunyi dalam sebuah gua selama 10 tahun.

Ada kisah yang mengatakan bahwa lamanya selama 20 tahun, bahkan ada juga yang mengatakan hanya 40 hari. Pada saat itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus burung burung gagak membawakan aneka makanan untuk Nabi Ilyas Alaihissalam.

Cukup lama Nabi Ilyas berada di dalam gua, setelah mendengar kabar bahwa Raja penguasa telah meninggal dunia, maka Nabi Ilyas bergegas keluar dari gua untuk kemudian kembali berdakwah, dengan cara mengajak sang raja penguasa yang baru agar beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Raja tersebut akhirnya dapat menerima ajaran Nabi Ilyas Alaihissalam dan diikuti pula oleh sebagian besar penduduk di negeri ba’labak, hanya ada sekitar 10000 orang saja yang tidak mau beriman.

Oleh karena itu, akan melawan raja yang baru, maka para tentara diperintahkan untuk memberikan hukuman kepada mereka, yaitu hukuman mati. Seluruh masyarakat meninggalkan penyembahan berhala dan hidup rukun makmur sejahtera.

Namun, Bani Israel kembali ingkat. Nabi Ilyas mengadukan perilaku Bani Israil kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan memohon agar Bani Israil diberi peringatan. Tidak lama kemudian Allah menurunkan kemarau panjang di negeri Syam.

Masyarakat banyak yang berebut air dan perkelahian terjadi dimana-mana, kekacauan melanda seluruh negeri, hingga suatu hari ada sekelompok yang menemui Nabi Ilyas Alaihissalam, mereka minta tolong kepada Nabi Ilyas untuk memohon kepada Allah agar azab ini dihentikan.

Mereka meminta maaf atas kesalahan karena telah kembali ke jalan yang sesat, yaitu menyekutukan Allah, atas pernyataan tobat ini, maka Nabi Ilyas kembali berdoa kepada Allah supaya azab kemarau panjang yang menimpa Negeri ba’labak dapat dihentikan, dan Allah berkenan memberikan kasih sayang kepada Bani Israil.

Doa Nabi Ilyas Alaihissalam dikabulkan oleh Allah, tak lama berselang hujan mulai turun membasahi wilayah negeri ba’labak, seluruh masyarakat bergembira merayakannya.

Wilayah menjadi subur dan makmur, namun tak disangka, beberapa berselang, Bani Israil kembali kufur. Bahkan mereka mengolok-olok Nabi Ilyas. Akhirnya beliau meninggalkan Bani Israil yang terus mengejeknya. Setelah itu, Allah SWT menurunkan azab yang lebih dahsyat, yaitu berupa panas yang membuat orang-orang bergelimpangan dan binasa.

Dalam riwayat israiliyat yang belum jelas benar atau salahnya, dikisahkan Nabi Ilyas meminta kepada Allah agar diangkat ke langit, tiba-tiba datanglah seekor binatang yang warnanya seperti warna api, kemudian Nabi Ilyas menaikinya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan sayap kepada Nabi Ilyas serta pakaian dari cahaya.

Selain itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mencabut lezatnya makanan dan minuman dari Nabi Ilyas Alaihissalam, sehingga ia menjadi sosok manusia bumi seperti Malaikat langit, setelah itu barulah Nabi Ilyas berwasiat kepada penduduknya yaitu Nabi Ilyasa, untuk melanjutkan dakwahnya.

Terdapat dua pendapat mengenai akhir hidup Nabi Ilyas Alaihissalam.

  • Pendapat pertama, menjelaskan bahwa Nabi Ilyas Alaihissalam masih hidup, saat dikejar-kejar oleh kaumnya, untuk dibunuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat Nabi Ilyas ke langit. Ada pula yang berpendapat bahwa saat itu ketika ia ingin dicabut nyawanya, Nabi Ilyas memohon agar tetap hidup, supaya dapat terus berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga Allah mengangkatnya dan menempatkannya di suatu tempat untuk terus berdzikir hingga akhir tiba.
  • Sementara pendapat kedua menerangkan bahwa Nabi Ilyas meninggal dunia karena sakit dan usianya yang sudah tua.