Dunia Yang Sempurna

On Sunday, May 12, 2019
Dunia Yang Sempurna
Daftar Isi Klik Gambar
Gue duduk sendirian di sebuah bangku kayu panjang di selasar kampus baru gue ini. Dengan memakai seragam ala ospek kampus dan segala tetek bengeknya, gue memandangi sekeliling. Hari udah sore, dan ospek hari itu udah berakhir dengan seabrek tugas dari senior untuk dikumpulkan keesokan harinya. Badan gue udah lusuh, dan gue menduga bau badan gue pun udah ga sedap, mengingat seharian ini kami upacara di lapangan dan kegiatan luar kelas lainnya.

Hari itu gue dimasukkan dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 15 mahasiswa baru lainnya, dan diperintahkan untuk membuat yel-yel beserta pernak-pernik tugas ospek yang menurut gue aneh bin ajaib. Gue menghela napas panjang, dan mengurut-urut bagian belakang gue karena lelah. Gue mau pulang ke kos, tapi pikiran gue terganjal oleh tugas kelompok yang menumpuk. Seberat apapun tugas itu, harus udah jadi keesokan harinya.

“kok bengong disitu, Gil?” sapa seorang cewek.

Gue menoleh ke samping. Agak jauh disamping gue tampak sesosok cewek dengan dandanan ala ospek sama seperti gue. Si cewek ini satu kelompok dengan gue. Tadi pagi dia memperkenalkan diri sebagai Soraya.

“eh, Aya. Ga kok gapapa. Lagi capek aja, pengen duduk…” jawab gue sambil cengengesan.

Soraya berjalan ke arah gue sambil menggendong tas ransel besar yang berisi entah apa, kemudian dia duduk disamping gue. Ada rasa malu dan ga percaya diri ketika Soraya duduk disamping gue. Bukan apa-apa, tapi gue sadar kalo keadaan gue lagi lusuh dan lengket gini setelah seharian dihajar ospek.

“panggil gue Ara aja.” celetuknya tiba-tiba.

“Ara?” gue mengulangi.

Soraya mengangguk. “Iya, Ara.”

Gue tersenyum dan ga mendebat dia lebih jauh. “gak pulang, Ra?” tanya gue.

“pengen balik ke kos sih, cuma nanti kan masih kumpul-kumpul lagi.” Ara menoleh ke gue, “lo sendiri, gak balik?”

“alasan gue sama kayak lo, Ra. Nanggung soalnya…” gue terkekeh.

“lo dari mana, Ra?” sambung gue.

“dari toilet tadi…”

“bukan, maksud gue lo dulu tinggalnya dimana…” gumam gue sedikit kesel.

Ara tertawa pelan, “asli sini sih, tapi gue SMA di Surabaya.”

“disini ngekos ya, Ra?”

Ara mengangguk, “iya gue ngekos disini, orang tua gue dinasnya pindah-pindah, jadi ya gak ada domisili tetap deh…” sahutnya.

“kalo lo, darimana, Gil?” tanyanya lagi.

“gue dari sebuah kota kecil di Jawa Barat…” gue tertawa, “jangan tanya dimana, soalnya gue takut kota gue itu ga masuk di peta…”

Ara tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kemudian asik merapikan rambutnya yang didandani cukup aneh. Gue diam-diam memperhatikan sosok Soraya alias Ara ini. Sialnya, Ara mendadak menyadari dan langsung menoleh ke gue.

“apa?” tanyanya.

Gue kikuk dan membuang pandangan gue ke arah lain. “enggak, ga papa kok…”

Ara meniup wajah gue, dan itu membuat gue kaget. Sementara Ara cuma tertawa-tawa ga jelas. Dari kejauhan tampak langit semakin temaram, tanda malam sebentar lagi datang. Gue menoleh ke Ara, persis ketika Ara juga menoleh ke gue. Kami terdiam sejenak.

“lo gak pulang ke kos? Bentar lagi malem loh…” kata gue.

Ara tertawa, “gue juga baru mau ngomong hal yang sama….” dan kemudian kami tertawa terkikih berdua.

Gak berapa lama kemudian kami beranjak berdiri, dan berjalan cukup jauh menuju jalan raya diluar kampus kami, mencari angkutan umum yang masih ada. Kami menunggu beberapa lama, hingga akhirnya ada angkutan umum yang berhenti di depan kami. Ara kemudian menyebut nama daerah kosnya dia, dan kebetulan itu daerah yang sama dengan kos gue. Ah, pasti disitu banyak kosan juga, kan masih wilayah kampus, batin gue. Angkutan umum itupun berjalan pelan-pelan menuju ke daerah tersebut.

Beberapa waktu kemudian akhirnya sang angkutan umum sampai di tempat yang dituju oleh Ara, karena dia meminta supir untuk berhenti. Ketika gue memandangi tempat yang dimaksud, gue terkejut, ternyata kosan yang dimaksud Ara adalah kosan gue juga, yang baru gue masuki kemarin sore.

Setelah kami berdua turun dari angkutan umum, dan mobil tersebut telah meninggalkan kami, gue bertanya ke Ara.

“loh, Ra, lo ngekos disini juga?” gue menunjuk sedikit ke gerbang kosan berwarna coklat itu.

“lo ngekos disini juga, Gil?” tanyanya ga kalah kaget.

“iya, baru kemaren juga gue masuk. Sumpah gue ga sadar kalo ini kosan campur. Kirain cowok doang…”

Ara mengangguk sambil tertawa, “iya, awalnya sih gue ga mau kosan campur, tapi gara-gara gue cari kosannya mepet dan yang lain udah pada penuh, yaudah deh mau ga mau di kosan campur kayak gini.”

“gue malah ga tau, Ra….” sahut gue pelan.

Kami berdua melangkah masuk ke gerbang kos-kosan besar itu, dan melihat areal parkir didalamnya yang dikelilingi dengan kamar-kamar penghuni kos.

“lo disebelah mana, Ra?”

“itutuh di lantai dua yang pojok, dapetnya tinggal disitu doang ih. Kan ngeselin.” Ara menunjuk ke salah satu kamar tertutup di sudut lantai dua.

“bentar-bentar, Ra, lo masuk kesini kapan emang?” gue menyelidiki.

“kemaren sore-malem gitu lah. Lo kapan emang?”

Gue tertawa heran, dan itu juga membuat Ara heran dengan gue. Tawa gue begitu absurd, karena menertawakan kejadian absurd.

“gue masuk sini kemaren siang agak sorean.”

“kamar lo yang disebelah mana emang, Gil?”

“di sebelah kamar lo…” jawab gue.