Dunia Yang Sempurna; Part 8

On Thursday, May 16, 2019
Dunia Yang Sempurna
Daftar Isi Klik Gambar
Suatu pagi di hari biasa. Gue terbangun dengan tergagap, gue kira kesiangan. Setelah melirik jam dinding di kamar, gue merasa sedikit lega. Baru jam 8 pagi, sementara jadwal kuliah gue jam 11 siang. Gue meneruskan berbaring sebentar, dengan pintu kamar masih tetap tertutup. Gue terpikir Ara, kok tumben dia ga bangunin gue seperti biasanya. Barangkali dia lagi di kamar mandi, pikir gue santai. Sambil meregangkan tubuh, gue duduk di tepi kasur, mengumpulkan nyawa yang masih beterbangan.

Gue bangkit, dan membuka pintu kamar. Gue tengok kamar Ara, masih tertutup juga. Oh mungkin dia masih tidur, batin gue. Sambil meminum sebotol air mineral, gue merasa perut gue berkontraksi. Segera gue sambar rokok yang tergeletak di meja, dan ngeloyor ke toilet. Panggilan alam pagi itu terlalu penting buat diabaikan.

Sekembalinya dari toilet, gue berdiri bersandar di balkon, diantara kamar gue dan kamar Ara. Kembali gue melirik ke pintu kamar Ara yang masih tertutup, dan merasakan panasnya matahari pagi. Aneh, udah jam segini kok tumben Ara belum bangun. Seingat gue semalam juga ga ada kegiatan yang melelahkan. Hal itu yang mendorong gue untuk mengetuk pintu kamar Ara.

Sekali, dua kali, gue ketuk pintu kamar Ara. Ga ada jawaban. Gue ketuk lagi untuk ketiga dan keempat kali, masih ga ada jawaban. Gue memutuskan mengetuk sekali lagi, dan menunggu. Ternyata masih ga ada jawaban. Gue merasa aneh dan penasaran. Kemudian gue tempelkan telinga ke daun pintu, barangkali gue bisa mengetahui sesuatu dari dalam. Benar saja, ada suara lirih cewek yang sedang menangis. Wah, ini pasti ada apa-apa sama Ara, pikir gue khawatir.

“Ara, lo kenapa?” panggil gue dari balik pintu.

Sunyi, ga ada jawaban.

“Raaa? Araaa?” panggil gue lagi.

Lagi-lagi masih sunyi ga ada jawaban. Gue mengetuk-ngetuk pintunya sekali lagi sambil memanggil namanya. Dan hasilnya tetap nihil.

“Raaa? Lo gapapa kan, Ra?” tanya gue mulai panik.

Akhirnya gue memutuskan untuk mencoba membuka pintunya, tanpa seijin Ara. Bodo amat.

Pintu kamar Ara ternyata ga terkunci, dan gue dengan mudah bisa membukanya. Di dalam kamar gue dapati Ara sedang mendekap kedua lututnya, sementara wajahnya menunduk, menempel ke lututnya. Siapapun bisa menebak kalo Ara sekarang sedang menangis.

“Ra? Lo kenapa?” pertanyaan bodoh itu meluncur dari mulut gue. Ya, ga perlu gue tanya lagi seharusnya gue tahu kalo Ara sedang menangis.

Ara ga menjawab, dan dia masih menunduk, mendekap kedua lututnya erat-erat. Seakan gue ga pernah ada di kamar itu.

Gue mendekati Ara, dan mengguncangkan bahunya pelan. “Ara, lo nangis?” lagi-lagi pertanyaan bodoh semacam itu keluar dari mulut gue. 

“ada apa, Ra?

“…….”

“Ra? Lo kenapa?”

“…….”

“Lo gapapa? Cerita ke gue sini, lo ada masalah apa?”

“……..”

Gue mulai merasa percuma ngomong ke Ara dalam kondisi seperti ini. Dia ga menjawab pertanyaan gue, dan masih terus menangis. Cuma sesekali dia mengusap air matanya, kemudian menunduk lagi mendekap kedua lututnya.

“Raaa, ada apa si, Raaa?” gue mulai bosan bertanya.

“………”

Masih ga ada jawaban juga dari Ara. Gue menunggu beberapa saat, kemudian gue berdiri, dan berjalan meninggalkan dia. Percuma gue ajak ngomong sekarang, dia juga masih menangis terus. Lebih baik kalo gue biarkan dia memuaskan tangisnya dulu baru gue bertanya apa yang terjadi kepadanya, pikir gue waktu itu.

Baru beberapa langkah gue berjalan, dari belakang punggung gue mendengar suara tangisan Ara semakin keras. Gue menoleh.

“lo ngapain si masuk sini kalo cuma ninggalin gue doang” kata Ara di sela-sela tangisnya.

“ya abisnya lo gue tanyain ga jawab, Ra…” jawab gue bingung.

“ya kan gue lagi nangis….” dan Ara pun menangis lagi dengan keras.

“ya terus gue harus ngapain deh….”

“ya tanyain gue kek ada apa, tenangin gue kek, atau apa kek….” lagi-lagi Ara menangis keras. Gue menggaruk-garuk kepala yang ga gatal.

“bukannya dari tadi gue tanyain lo ada apa ya” jawab gue lemas.

“ya nunggu kek sampe gue selesai nangis, lo mah ga ada peka-pekanya jadi cowok” tangisnya semakin menjadi-jadi.

Rasanya gue pingin pukulin bantal Ara yang tergeletak diatas kasur. Dari tadi bibir gue sampe bengkak nanyain Ara, masih aja dibilang ga ada peka-pekanya. Sabar Gilang, sabar, pikir gue waktu itu.

Gue kemudian duduk bersila di samping Ara, dan memandanginya.

“lo kenapa?”

“…….”

“udah bisa cerita belom?”

“…….”

“gue upilin nih”

Seketika itu juga Ara mengangkat kepala, dan menabok lengan gue dengan gemas. Gue meringis menahan sakit.

“ya abisnya lo diajakin ngomong malah nangis mulu”

Ara memandangi gue dengan mata bengkak, dan rambut acak-acakan sehabis menangis. Wajahnya cemberut. “Ambilin gue minum gih” perintahnya.

Gue mengambilkan gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser, kemudian menyerahkan ke Ara. Gue memandangi Ara minum, dan dia menghapus air mata dari pipinya. Gue melihat sekeliling, dan menemukan tissue yang gue cari. Gue ambil beberapa lembar, dan gue berikan ke Ara.

“lo kenapa, Ra?” tanya gue untuk yang entah keberapa kalinya pagi itu.

“gue putus, Gil.” Jawabnya singkat.

“kapan?”

“penting ga buat gue jawab?”

“……..”

“iya iya ga penting” sambung gue pasrah.

“ya makanya nanyanya yang lain kek”

“kenapa putus?”

Ara meminum sisa air putih yang tadi gue berikan.

“panjang ceritanya. Ntar aja gimana?” sahutnya pelan.

Gue berkedip-kedip beberapa saat, kemudian gue beranjak keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar gue, menjatuhkan diri di kasur. Dengan gemas gue menggigiti bantal, meskipun rasanya ga enak. Sumpah ya ini cewek paling bisa bikin gue kesel.

Ga berapa lama kemudian, gue mendengar suara cewek dari pintu kamar. Gue membuang bantal, dan melihat Ara berdiri bersandar memegangi kusen pintu gue.

“lo kenapa kok tau-tau keluar?” tanyanya polos. Gue bengong.

“gapapa, daripada gue jadi gila di sebelah” jawab gue akhirnya.

“cari sarapan yuk? Gue laper…” Ara melangkah masuk ke kamar gue dengan wajah memelas.

Gue memandangi wajahnya yang masih merah dan sedikit membengkak karena menangis. Memang sih, ini cewek ngeselin abis, tapi gue ga pernah tega terhadapnya.

“ya udah yuk sarapan yuk. Tapi lo nanti harus cerita semuanya. Jangan nangis ya?” kata gue mengacungkan telunjuk di hadapan mukanya, memberi syarat.

“iya janji, Boss” ucapnya sambil menjulurkan lidah dan mengulurkan kelingking tanda perjanjian.

Gue tertawa perlahan, diikuti oleh Ara, dan menjalinkan kelingking gue dengan kelingkingnya. Setidaknya pagi ini gue udah mencoba membahagiakannya.