Dunia Yang Sempurna; Part 7

On Wednesday, May 15, 2019
Dunia Yang Sempurna
Daftar Isi Klik Gambar
Sesuai permintaannya pagi tadi, hari ini gue menemani dia cari TV untuk di kamar kosnya. Gue ikut seneng sih dia beli TV, karena dengan gitu kan gue juga bisa numpang nonton di kamarnya, hehehe. Gue sebenarnya juga punya keinginan untuk beli TV, tapi kondisi keuangan sepertinya memaksa gue untuk berhitung sekali lagi.Buat gue, bisa kuliah dan ga ada hambatan itu udah merupakan satu anugerah besar.

Siang itu gue dan Ara naik angkutan umum ke daerah Glodok, yang udah terkenal di seluruh negeri sebagai salah satu pusatnya barang elektronik di ibukota.Di Glodok itu gue dan Ara berjalan-jalan cukup jauh sampe nyaris kesasar, karena keasyikan memilih-milih toko elektronik dan harga TV yang menurut Ara cocok di kantongnya.

Hari udah siang, dan kami berdua merasa capek karena dari tadi berkeliling cari TV yang sesuai dengan keinginannya Ara. Ketika udah menemukan satu varian TV, Ara menjadi ragu lagi karena dia berpikir ada kemungkinan di toko lain lebih murah. Dan itu terjadi berulang-ulang, sampe gue kesel.

“ra, istirahat dulu yuk” pinta gue karena mulai lelah.

Ara menoleh dan memandangi gue.

“lo mau istirahat dimana?” tanyanya.

Gue memandang berkeliling, “tuh kayanya disana ga begitu rame” gue menunjuk sebuah kedai es dan makanan ringan lainnya.

“boleh deh, gue juga aus” sahut Ara sambil meringis. 

“lo mah dasarnya segala mau”

Kembali Ara cuma meringis dan menarik tangan gue, “yuk ah, jadi kesana apa enggak? bawel amat lo kayak beo”

Gue mau ga mau nurut-nurut aja ditarik Ara kesana, meskipun itu membuat gue menembus kerumunan orang-orang. Ara mah enak, badannya kecil, bisa menyelinap diantara orang-orang. Kalo gue dengan badan normal layaknya cowok, agak susah buat selincah Ara.

“pelan-pelan, Ra” kata gue dengan napas agak tersengal.

“biar cepet sampe, sesek juga gue disini” sahutnya. 

Akhirnya gue dan Ara duduk di sebuah kedai es, yang hari itu juga rame banget. Gue memesan es teler, sementara gue lupa Ara memesan apa. Setelah memesan makanan, Ara memandangi atrium di hadapan kami beserta orang-orang yang lalu lalang di dalamnya.

“rame banget ya” celetuknya.

“namanya juga hari Sabtu, Ra. Waktunya orang-orang pada jalan kaya kita ini”

“iya sih sempetnya Sabtu doang ya”

“kalo hari biasa kaya apa ya suasananya” gue penasaran.

“ya masih ada yang beli sih, tapi pasti ga serame sekarang” sahut Ara sambil meminum pesanannya. “coba liat tuh” Ara menunjuk salah satu arah dengan dagunya. Gue menoleh ke arah yang ditunjuk Ara.

Gue melihat sepasang suami istri dan anak-anaknya sedang berbelanja barang elektronik, dan bukan cuma satu, melainkan beberapa jenis barang elektronik. Dan kesemuanya itu dibawa oleh sang suami, sampe-sampe sang suami itu kerepotan untuk jalan. Gue tertawa pelan dan menggeleng.

“kok ga ada yang bantuin ya” celetuk gue sambil mengaduk-aduk es teler.

“iya tuh istrinya ga bantuin sama sekali. Kasian tau”

“yaudah lo bantuin sana gih” gue meringis.

“ogah ntar gue disangka istrinya”

“muka lo tua dong”

Ara melotot sambil mencubit tangan gue. Gue mengaduh dan mengelus-elus kulit tangan yang memerah gara-gara cubitan Ara.

“sakit tau” gerutu gue.

“salah siapa ngeledek gue”

“lah kan yang bilang disangka istrinya itu lo”

“tapi kan gue ga bilang muka gue tua?”

“iya iya deeeh….”

Ara mengaduk-aduk minumannya sambil cemberut. Gue tertawa kecil, menertawakan reaksi Ara barusan. Ini cewek, suka nyiksa orang kalo lagi bete. Gue memperhatikan Ara. Dia berbadan kecil, berambut ikal sebahu, dengan poni yang menurut Bang Bolot “manis banget”. Berkulit putih bersih, dengan raut wajah tajam. Gue rasa nama Soraya yang disandangnya bukan tanpa alasan. 

Menurut beberapa teman kampus gue yang baru, Ara termasuk yang paling cantik diantara anak-anak baru. Gue mencoba mengerti kenapa mereka bilang begitu, meskipun sampe sekarang gue belum bisa menemukan alasannya.

Mendadak Ara menepuk telapak tangan gue.

“woi, bengong aja”

“eh…” gue mendadak tersadar.

“hayooo mikir apa lo?”

“enggak, gapapa kok” jawab gue sambil mengaduk-aduk es.

“mikir jorok ya? Hahaha” timpalnya dengan muka ngeselin. 

Gue baru berniat protes, dia langsung membungkam gue.

“ssstt, udah cepetan diabisin itu es lo, jalan lagi kita. Keburu sore nih” perintahnya.

“bzzztt, iyaa iyaa, galak amat si lo”

Kemudian kami berdua melanjutkan pencarian TV yang sesuai keinginan Ara, selama beberapa jam kedepan. Seandainya kaki gue bisa menjerit, barangkali dia udah protes dari tadi. Disitu gue baru tahu kalo Ara adalah tipikal cewek yang detail banget kalo belanja. Apapun dicek, dan diperhitungkan lagi. Cewek banget, batin gue.

Akhirnya menjelang sore, penderitaan gue berakhir. Ara akhirnya memutuskan membeli TV jenis LCD berukuran 21”. Setelah dicoba dan dites berkali-kali, Ara pun membayar TV barunya itu, dan penjual membungkusnya dengan kardus bawaan TV itu. Ketika penjual menyerahkan kardus berbentuk koper dengan pegangan diatasnya ke Ara, dia justru menoleh ke gue sambil meringis.

“Gil, bawain”

Gue cuma bisa melotot. “lah kok gue?” protes gue.

“iya dong, gue kan ngajak lo buat ngebawain” ucapnya santai. “udah gih cepetan ambil, kasian itu omnya megangin daritadi!”

Sambil menggerutu sekaligus ga enak sama om penjualnya, gue mengambil kardus TV itu dan menentengnya keluar toko. Ara didepan gue dan memerintahkan gue untuk jalan, seakan dia majikan gue, sementara gue adalah budaknya. Sabar sabar, batin gue, demi kesempatan nebeng nonton TV.

Di atas angkutan umum, gue dan Ara duduk bersebelahan. Ara tampak lelah, dan dia tertidur bersandarkan bahu gue, sementara gue memeluk kardus TV itu, yang membuat gue ga bisa melihat lurus ke depan. Gue menghela napas panjang. Antara lelah dan kesel. Sesekali gue mengintip di balik kardus, sekedar memastikan lagi bahwa angkutan umum ini berjalan di jurusan yang sama dengan kami.

Gue melirik ke samping, dan melihat Ara tertidur di bahu gue. Ketika gue melihat wajahnya yang tenang itu, entah kenapa segala kekesalan gue hari itu menguap, dan gue merasa segala yang gue lakukan hari ini masuk akal.